- Antologi Puisi

Antologi puisi “Pintô Aceh:
Antologi Puisi Tentang Pesona Aceh” adalah perwujudan tulus dari semangat literasi dan kecintaan para guru serta siswa-siswi SMKS Kesehatan Darussalam Lhokseumawe terhadap Nanggroe Aceh Darussalam. Buku ini didedikasikan sebagai upaya kolektif untuk merawat dan menumbuhkan kembali nilai-nilai kearifan lokal Aceh yang melimpah.
“Pintô Aceh,” yang juga menjadi judul antologi, merujuk pada motif hias khas yang melambangkan karakter masyarakat Aceh yang rendah hati, terbuka, sabar, ramah, dan penuh penghormatan. Melalui rangkaian kata yang indah, antologi ini membawa pembaca untuk menyelami makna mendalam dari berbagai aspek kehidupan di Serambi Mekkah.
Karya-karya di dalamnya menjelajahi pesona alam Aceh, mulai dari keindahan bahari Pulau Weh dan Lhokseumawe , hingga kemegahan gunung seperti Burni Telong dan Leuser di Dataran Tinggi Gayo. Selain itu, puisi-puisi ini dengan kuat mengangkat tradisi budaya yang tak lekang oleh waktu, seperti ritual sakral Peusijuek , kehangatan kuliner khas seperti Kuah Beulangong dan aroma legendaris Kopi Gayo , serta semangat kebersamaan dalam Tari Saman. Bahkan, ada refleksi tentang kisah pilu masa lalu seperti tragedi Arakundo dan Tsunami 2004, yang menjadi saksi ketangguhan jiwa rakyat Aceh.
Buku ini merupakan ajakan bagi generasi muda untuk tidak hanya mengenal, tetapi juga menghargai dan melestarikan warisan agung budaya dan identitas diri Aceh. Selamat menyelami keindahan kearifan lokal Aceh melalui mata dan hati para penyair muda dari SMKS Kesehatan Darussalam.
- Cerita Pendek
Cabang Lomba: Menulis
Cerita Pendek Judul: Sekantung Onde-onde dari Bapak
Nama: Yussi Firya Nabila
Nama Sekolah: SMKs Kesehatan Darussalam Kota Lhokseumawe
“Bapak, besok beliin onde-onde ya.”
Sebuah permintaan tanpa adanya respon berlebihan, tak ada janji-janji manis, tak ada jawaban yang terdengar meyakinkan, hanya anggukan kering seperti satu jam kemudian beliau pasti akan melupakan permintaan ku yang sederhana itu.
Namun, keesokan harinya beliau pulang dengan sekantung penuh onde-onde hangat di tangan. Meletakkannya di atas meja tanpa berkata sepatah katapun, seolah biar aku sendiri yang merangkum semua kejadian itu seorang diri, atau mungkin … memang sebegitu sulit membangun komunikasi baik antara ayah dan anaknya. Bapak adalah anak kedua dari tujuh bersaudara—tinggal di sebuah rumah kayu sederhana di kampung yang terperosok masuk ke dalam hutan. Sepi, sunyi, tak ada sinyal.
“Bagai kepiting dalam rebusan.”
Bahkan akses untuk menuju ke kampung saja … seperti melewati sebuah medan perang yang di setiap jejaknya dipenuhi debu.
Andaikata jika kita pergi kesana dalam wajah kuning langsat, mungkin pulang-pulang kulit kita akan bisa menyaingi elegannya dari warna identik kulit sawo matang. Memang sebegitu dashyatnya.
Belum lagi beberapa kebun yang dapat menyemakkan mata, mulai dari kebun sawit, coklat, karet, dan rambutan yang benar-benar berserak di mana-mana. Aroma-aroma hewan liar khas hutan dan keganasan mereka.
Semuanya bercampur aduk menjadi satu pemandangan yang terbentang.
Sejujurnya, aku tak terlalu mempermasalahkan semua itu. Toh, aku baru beberapa tahun ini hidup, dan sekarang kampung juga jadi lebih canggih—paling tidak sedikit. Kesabaran menjalani lika-liku kesulitan mengendarai sepeda motor itu naik turun bukit, hidup dengan bermodalkan lampu dari bahan bakar minyak tanah, dan sulitnya akses untuk mendapat sinyal demi bisa mendengar sebuah alunan lagu tarian Jawa di televisi? Jelas itu sudah dirasakan lebih dulu—lebih getir, oleh bapak dan keluarganya selama bertahun-tahun lamanya
Bapak dan keluarganya bisa dikatakan adalah salah satu keluarga yang juga berkecukupan saat itu. Namun, bercukupan di kampung yang terperosok, di dalam hutan, bukan berarti hidup tanpa batas—bak jalan tanah menuju kampung itu, lurus tapi tak selalu rata.
Bahkan hanya untuk buang air besar saja … mereka harus berjalan memasuki kebun coklat dengan jarak 30 meteran dari rumah, dan saat matahari ditelan bumi mereka harus menentengnenteng lampu minyak tanah di tangan, dengan satu lingkaran utuh obat nyamuk dengan kepulan asap. Bayangkan begitulah sulitnya.
Sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara di dalam keluarga yang harus tahan ‘perasan air lemon di atas luka’—bapak pastinya ikut terlibat dalam mengambil keputusan-keputusan bijak untuk adik-adiknya, memiliki peran kuat untuk terbiasa berdiri sedikit lebih dewasa dari usianya—menguatkan adik-adiknya ketika orangtuanya tak mampu, dan juga terlibat untuk memikul tanggungjawab bagi adik-adiknya, orang tuanya, bahkan dirinya sendiri.
Tumbuh sebagai pribadi yang tangguh dan pekerja keras membuat bapak akhirnya membulatkan tekad untuk pergi meninggalkan kampung halaman dan merantau ke pusat kota—ke tempat asing yang tidak pernah ia kenali sebelumnya, sebuah tempat yang tak menyambutnya dengan tangan terbuka, sebuah tempat yang memiliki banyak perantau lain dan dengan itu semua ia berjalan dengan keberanian hanya bermodalkan doa hebat dan selembaran keyakinan yang tak begitu tebal.
“Bagai menanam padi di atas batu.”
Begitulah bapak bekerja kesana-kemari, penolakan, remeh-temeh dan hinaan datang silih berganti mengetuk harga dirinya berkali-kali—bak tamu tak diundang tanpa salam tanpa permisi. Ada hari-hari ketika ia pulang dengan bahu lebih berat dari biasanya, dengan langkah yang dipaksa tegap meski hati terasa dipukul berkali-kali.
Hingga akhirnya, seluruh kesulitan itu membawanya pada sebuah pabrik kecil produksi roti bantal—tempat sederhana yang tak banyak orang lirik, namun cukup untuk memberinya sebuah ruang bertahan hidup. Disanalah bapak mulai membiayai hidupnya sendiri, dengan serba apa adanya; menabung sedikit demi sedikit dari upah yang tak seberapa, sambil tetap memelihara harapan yang tak pernah benar-benar padam.
Pada latar belakang tahun 90-an sebuah benang merah akhirnya terlihat di depan matanya— bagian dalam takdir kehidupannya, muncul, menjuntai indah dalam wujud seseorang yang nyata.
“Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.”
Secara tak sengaja ia bertemu dengan seorang wanita berambut keriting, dengan kulit putih, dan tutur kata lembut yang menenangkan. Tak benar-benar mencolok, tapi cukup untuk membuatnya ingin tinggal lebih lama dalam percakapan. Dan benar, itu adalah Mamakku.
Sebuah pertemuan singkat, sebuah perkenalan sederhana dan sebuah pembicaraan seperlunya—tampaknya tak menjadi pembatas bagi keduanya untuk mulai membiarkan benihbenih cinta itu tumbuh perlahan-lahan dengan indah.
Hubungan yang dapat digarisbawahi sebab pertemuan itulah terciptanya karya di atas kertas ini. Sudah 35 tahun sejak janji itu diucapkan.
Sudah 35 tahun sejak janji itu diucapkan. Susah-senang dilalui, suka-duka dilewati. Segalanya terasa lebih indah setelah hari pernikahan, bapak yang mulai sering berkomunikasi dengan banyak orang berkat bantuan mamak, dan bapak yang mulai terbiasa untuk bersikap lembut karena mamak.
Sampai … kusadari satu hal, mengapa bapak hanya akan bersikap lembut dan hangat hanya kepada mamak dan orangtuanya? Memangnya apa yang terjadi? Apa aku pernah membuat kesalahan hingga dia tak lagi menunjukkan senyuman di wajahnya saat ada aku disana? Mengapa saat pulang wajahnya selalu terlihat dingin dan kesal? Apa bapak marah? Atau, tak senang? Timbul sebuah pertanyaan yang membuat ku mulai menduga-duga seorang diri, berdiam dengan isi kepalaku yang liar, akan pemikiran sebab mengapa bapak selalu jarang berbicara dengan nada lembut kepadaku, jarang memperlihatkan senyuman ramahnya, bahkan lebih jarang lagi bersikap hangat kepadaku.
Puncaknya saat aku mulai merasa canggung berada satu ruangan yang sama dengan bapak, mulai terlihat mencari-cari alasan untuk menjauh saat berada di dekat bapak, dan bahkan kerap kali menghindar saat kami secara tak sengaja melakukan kontak mata bersama.
Menghela nafas, aku menyingkirkan teknologi berlayar pipih dari tanganku itu. Merenungkan kembali pemikiran jahatku akan bapak saat kecil dulu, merasa bersalah dan menyesal telah berpikiran seperti itu. Karena di detik itulah aku akhirnya sadar—semakin aku tumbuh dewasa, aku mulai semakin mengerti akan satu hal. Bahwa bapak, hanya … menunjukkan cintanya lewat cara yang berbeda-beda. Lewat caranya sendiri.
Bapak bukannya tak suka berinteraksi dengan anak-anaknya, bukan juga karena tak senang atau puas dengan usaha anak-anaknya, dan juga bukan pula karena beliau sombong, ketus, atau tak peduli dengan keluarga kecilnya. Tidak! Tentu tidak. Bapak hanya bingung, canggung, dan … pendiam. Bukan karena dia tak pernah mencoba melakukannya—dekat dengan keluarganya, tapi memang dia tidak tahu bagaimana harus melakukannya. Tak ada yang mengajarkannya.
Bapak memang tak terlalu pandai mengekspresikan rasa sayangnya lewat kata-kata dengan anak-anaknya. Terlihat kaku menunjukkan kasih sayangnya lewat sebuah pelukan hangat, canggung akan dukungan tangan di bahu anak perempuannya, dan bingung bagaimana menyusun kata untuk bertanya bagaimana hari yang dialami anak-anaknya.
Namun meski begitu, bapak selalu tau apa yang dibutuhkan oleh anak-anaknya, selalu ada untuk keluarganya dan selalu paham kondisi suasana rumahnya, seolah-olah hidupnya didedikasikan untuk memastikan kami tak pernah merasakan kerasnya dunia yang dulu memukulnya.
Sesaat lamunanku teralihkan oleh panggilan lembut namaku, mendongak—kepada bapak. Tersenyum dengan anggukan kecil, aku berdiri menghampiri meja. Menatap plastik merah yang tergeletak di atas meja dengan limpahan onde-onde didalamnya.
Aku tersenyum dengan perasaan senang melihat makanan favoritku di sana. Onde-onde itu, tampilannya saja yang sederhana dan sedikit keras di luar, namun di dalamnya tersimpan rasa manis yang menghangatkan—seperti bapak yang tak pandai berkata-kata tapi selalu tahu cara mencintai.
Bapak adalah alasan ku tetap berjuang sampai saat ini, memasang sebuah perisai kuat di dada, membantai habis segala musuh di medan tempur, itu semua karena aku meniru dia dan keberaniannya. Beliau jarang menasihatiku, hampir tak pernah kudengar dia memotivasiku, dan bahkan hampir tak pernah pula kudengar dia memujiku.
Namun entah mengapa, aku selalu tau bahwa dia, selalu ada untuk mendukungku, selalu bangga pada keberhasilanku, dan selalu senang dengan pencapaianku. Setiap kali aku mengingat perjuangannya dalam saat-saat kefrustrasianku pada pekerjaan sekolah, setiap kali aku melihat kerja kerasnya di bawah sinar matahari, detik itu juga aku berjanji bahwa aku akan menjadi lebih berani dan lebih sukses untuknya.
Untuknya…
- Jurnalistik
Dibalik Tiupan Serune Kalee
Tradisional Budaya Aceh
Ilmira Alfhatunnisa
Smks Kesehatan Darussalam Lhokseumawe, 2026
Abstract
Serune kalee merupakan instrument tiup yang berasal dari Aceh dan masih warisi oleh Masyarakat Aceh. Keberadaan Serune Kalee biasanya digunakan untuk pelaksanaan upacara intat linto baru, pembukaan acara seremonial, serta penyambutan tamu. Namun seiring
berkembangnya penggunaan alat musik modern, alat-alat musik tradisional mulai
ditinggalkan, termasuk Serunee Kalee. Hal ini lah yang terjadi saat ini di Aceh. Contohnya seperti alat musik tiup ini yang biasanya digunakan untuk mengiringi tarian-tarian tradisional Aceh bersamaan dengan Rapa’i. Tapi, saat ini Masyarakat lebih memilih menggunakan musik modern.
MENGENAL SERUNE KALEE DAN TANTANGANNYA.
Aceh memiliki kekayaan seni budaya yang sangat beragam salah satunya adalah Serune Kalee, jenis alat musik tradisional yang digunakan untuk pelaksanaan upacara intat linto baru, pembukaan acara seremonial, penyambutan tamu, serta mengiringi tarian tradisional. Alat musik tradisional yang sering digunakan diantaranya Serune Kalee dan Rapa’i. Rapa’I masih sering kita temui pada beberapa tarian tradisonal Aceh, salah satunya tarian Ratoh Jaro yang biasanya memakai Rapa’i. Namun alat musik tradisional Aceh yang sudah jarang ditemui yaitu Serune Kalee.
Kemajuan teknologi dan ilmu pemrosesan sinyal audio, mengakibatkan penggunaan alat-alat musik tradisional semakin ditinggalkan dan digantikan dengan alat-alat musik modern yang dimainkan dengan menggunakan pemutar musik, seperti pada tarian Ranup Lampuan yang biasa dimainkan sebagai pembuka acara. Namun, teknologi yang sedang berkembang sekarang memiliki sisi positif, yaitu dengan memanfaatkan sosial media untuk mengajak seluruh masyarakat kembali mengenal dan ikut melestarikan warisan alat musik
tradisonal Aceh, Serune Kalee. Tulisan ini bertujuan memperkenalkan Serune Kalee sebagai alat musik tradisional Aceh serta menumbuhkan rasa bangga, kepedulian dan ketertarikan terhadap pelestarian budaya daerah Aceh.
WAWASAN SERUNE KALEE : SEJARAH DAN JEJAK.
Serune Kalee merupakan alat musik instrumen tradisional Aceh yang dimainkan dengan cara ditiup. Alat musik ini populer di daerah Pidie, Aceh Utara, Aceh Besar dan Aceh Barat. Serune Kalee biasanya dimainkan bersamaan dengan Rapa’i. Awal terbentuknya Serune Kalee berdasarkan pengetahuan bapak Zul Ikram yang sekarang menekuni dibidang seni
budaya Aceh serta guru di SMPN 1 Banda Sakti Lhokseumawe. Serune diperkirakan dari India yang masuk ke Aceh melalui jalur perdagangan dan penyebaran agama Islam lalu sampai di daerah kawasan kampung Kalee, dari kampung tersebutlah mulai tercipta nama ‘‘Serune Kalee’’ yang artinya serune itu serunai sedangkan Kalee diambil dari nama sebuah desa di Laweung, Kabupaten Pidie, Aceh.
Hal ini terlihat dari bentuk dan cara memainkan Serune Kalee yang mirip dengan alat musik serunai di beberapa daerah lain. Seiring waktu, alat musik ini berkembang dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Aceh. Menurut Bapak Zul Ikram awal mulai
berkembangnya Serune Kalee di Aceh itu setelah adanya tarian Ranup Lampuan. “Tari Ranup Lampuan pertama kali diciptakan itu memakai alat musik aransemen seperti musik orkestra yang memakai akoerdeon, yaitu alat musik portable dari keluarga aerofon. Seiring berjalannya waktu maka dipakai lah alat alat musik tradisional Aceh seperti Rapa’i,
Geundrang dan Serune Kalee. Dari situlah alat musik Serune Kalee mulai dikenal oleh Masyarakat’’ Kata Bapak Zul Ikram. Serune Kalee juga termasuk alat musik tiup jenis aerophone, karena menggunakan lidah tiup (mondstuk) dan memiliki rit atau rohrblatt.
Serune Kalee biasanya dimainkan bersama Geundrang dan Rapa’i dalam pertunjukan musik tradisional Aceh. Alat musik ini telah populer sejak masa kejayaan Kerajaan Aceh
Darussalam. Serune Kalee memiliki timbre yang tajam dan sengau, dengan nada yang tetap pada setiap bunyinya. Karakter suaranya yang kuat dan dinamis mampu membangkitkan semangat, sehingga sering digunakan dalam acara adat maupun seremonial.
SUARA NARASUMBER : MERAWAT WARISAN SERUNE KALEE
Bapak Zul Ikram S.Pd.I Merupakan keturunan orang orang yang berminat untuk menekuni dibidang kesenian budaya Aceh, dimulai dari Kakek beliau hingga beliau sendiri yang sampai saat ini masih menekuni dibidang kesenian budaya Aceh. Bapak Zul Ikram juga menjadi Pelatih alat musik serta tarian tarian Aceh di sanggar Mahkota Alam yang berada di SMPN 1 Kota Lhokseumawe.
Pentingnya peran Serune Kalee di Aceh menurut Bapak Zul Ikram: “ Penilaian dari saya tentang peran Serune Kalee di Aceh itu sangat penting karena Serune Kalee merupakan
warisan dari leluhur kita, dan kalau bukan kita yang jaga, kita yang budayakan, serta kita yang melestarikan. Siapa lagi yang akan melakukan hal itu?.’’
Pengalaman Bapak Zul Ikram “ Saya pertama kali belajar Rapa’i itu Ketika saya masih duduk di bangku kelas 2 MAN pada tahun 2003, lalu saya lanjut belajar Rapa’i di Banda Aceh serta ikut sanggar di Banda Aceh pada tahun 2005. Alhamdulillah dengan belajar Seni Aceh ini saya bisa berangkat ke beberapa Negara seperti China dua kali, Turki dua kali, Australia satu kali, serta Singapura satu kali untuk menampilkan tarian-tarian Aceh, Rapa’i Geleng, dan Serune Kalee.’’
HARAPAN DAN TUJUAN
Narasumber mengharapkan Anak-anak Aceh ikut kembali melestarikan Serune Kalee dengan cara berpartisipasi di sanggar daerah masing-masing atau mengikuti ekstrakurikuler seni disekolahan. Baik anak SD, SMP, serta jenjang SMA maupun sederajat. Bahkan anak muda yang sudah menempuh studi atau menjadi mahasiswa masih menjadi harapan untuk
ikut melestarikan Serune Kalee. Serta jangan terpengaruh dan terlena oleh budaya luar yang sangat berdampak negatif bagi anak-anak muda sekarang.
Maksud beliau bukan melarang untuk memakai media sosial, hanya saja kita sebagai penerus generasi Aceh sangat perlu untuk bisa membedakan yang mana hal positif dan hal
negatif. Contoh hal positif memakai media sosial yang berkaitan dengan pelestarian Budaya yaitu seperti memperkenalkan budaya-budaya yang ada di Aceh, serta mengedukasi anak-anak bangsa dengan cara mengunggah ke internet agar dapat dikenal luas.
Maka dari itu janganlah menganggap bahwa belajar atau menekuni bidang Kesenian Aceh tidak ada untungnya. Bisa kita lihat dari pengalaman Bapak Zul Ikram yang sangat menekuni dan sangat menjaga warisan Budaya Aceh ini sudah pergi ke beberapa Negara dengan membawa nama Aceh untuk diharumkan. Sebagai bentuk identitas daerah dalam menjaga kearifan lokal yang abadi.
Akhir dari tulisan ini memiliki harapan dan tujuan terhadap masyarakat terutama anak muda untuk kembali mengenal, memiliki rasa kepeduliaan serta ikut kembali melestarikan Serune Kalee sebagai alat musik dari salah satu kekayaan seni budaya Aceh. Sehingga memiliki rasa bangga sebagai “ Aneuk Aceh” yang memiliki begitu banyak keistimewaan daerah dan kekayaan seni budaya nya.
Pesan terakhir dari Bapak Zul Ikram : “Ayo sama sama kita menjaga dan melestarikan warisan budaya Aceh seperti serune kalee dan memiliki rasa bangga terhadap kekayaan kekayaan seni yang ada di Aceh”
Sekian dan Terimakasih.
Dokumentasi Wawancara Narasumber :

Dibalik suara narasumber, terdapat kisah yang bermakna. (Dokumentasi tanggal 27 April 2026, Lhokseumawe)
PELESTARIAN DAN PENGENALAN TARI GUEL SEBAGAI WARISAN BUDAYA ACEH
Munia Halis Fhonna. MJ
SMKS Kesehatan Darussalam Lhokseumawe, 2026
Latar belakang
Tari Guel merupakan salah satu tarian tradisional dari daerah Gayo, Aceh, yang memiliki nilai sejarah dan makna yang mendalam. Namun, seiring berjalan waktu minat generasi muda terhadap budaya tradisional mulai berkurang. Oleh karna itu, perlu adanya upaya untuk mengenalkan dan melestarilan tari Guel agar tidak punah.
Menurut Najwa sulhandina, Mahasiswa Universitas Negeri padang program studi pendidikan tari, yang aktif mengikuti organisasi tentang melestarikan warisan budaya bangsa, mengatakan bahwa tari Guel merupakan tarian tradisional yang berasal dari daerah Gayo, yang mana tarian ini menggambarkan kisah legenda tentang pemburuan gajah putih oleh “Sengeda”. Sejarah awal tarian ini adalah berawal dari legenda Sengeda yang dapat pentunjuk melalui mimpi untuk menangkap seekor gajah putih. Gerakan tari guel ini terinspirasi dari gerakan yang berada pada mimpi tersebut, lalu berkembang menjadi tarian tradisional.
Dimana tarian ini disimbolkan sebagai sosok Sengeda untuk membujuk atau mengajak gajah putih agar ikut bersamanya dalam mimpi tersebut. Adapun makna yang terkandung di dalam tarian tersebut adalah melambangkan kekuatan, keberanian serta kepemimpinan dan menghubungkan hubungan antara manusia dengan alam
serta sebagai simbol identitas kearifan lokal Gayo.
Ia juga menjelaskan bahwa tarian ini tidak memiliki pencipta tunggal. Mengapa? karena tarian ini merupakan warisan budaya turun temurun dari masyarakat Gayo.
Namun, tarian ini erat kaitanmya dengan tokoh legenda “Sengeda”. Pada umum nya yang menampilkan tarian ini biasanya adalah penari laki-laki karena disimbolkan sebagai “gajah putih”.
Najwa juga menambahkan bahwa tarian ini merupakan tarian yang sudah muncul di tengah masyarakat Gayo sejak zaman dahulu. “Dimana tidak diketahui secara pasti kapan mulai timbulnya tarian ini, tetapi tarian ini sudah ada sejak zaman kerajaan Gayo tersebut”, ujar nya.
Ia juga menjelaskan mengapa tarian ini dianggap penting bagi masyarakat Gayo, karena yang pertama tarian ini menjadi salah satu identitas daerah, kemudian sebagai media penyampaian sejarah atau legenda, dan menanamkan nilai moral serta filosofi sebagai bentuk kearifan daerah.
Solusi dan Harapan: Membangun Kembali Jiwa Kebudayaan Pada Remaja
Berikut merupakan solusi yang dapat di terapkan :
- Integrasi dalam Pendidikan
Tari Guel perlu dimasukkan ke dalam kegiatan sekolah, baik sebagai materi pelajaran seni budaya maupun ekstrakurikuler. Dengan begitu, remaja bisa mengenal, mempelajari, dan mempraktikkannya secara langsung.
- Pemanfaatan Media Sosial
Gunakan platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube untuk mempromosikan Tari Guel dengan cara yang kreatif dan menarik. Misalnya, membuat konten tarian sebagai bentuk promosi budaya daerah agar lebih dekat dengan dunia remaja.
- Pelatihan dan Workshop
Mengadakan pelatihan rutin atau workshop yang melibatkan seniman lokal agar remaja bisa belajar langsung dari ahlinya dan memahami makna filosofis di balik tari tersebut.
- Festival dan Lomba Budaya
Mengadakan lomba Tari Guel di tingkat sekolah maupun daerah agar menumbuhkan rasa bangga dan semangat berkompetisi secara positif.
- Kolaborasi dengan Seni Modern
Menggabungkan Tari Guel dengan unsur musik atau gaya modern tanpa menghilangkan nilai aslinya, sehingga lebih relevan dengan selera generasi muda.
- Peran Keluarga dan Lingkungan
Orang tua dan masyarakat perlu ikut mengenalkan budaya sejak dini agar remaja memiliki kedekatan emosional dengan warisan budaya
Berikut merupakan harapan yang dapat di terapkan :
- Munculnya rasa bangga terhadap budaya lokal remaja diharapkan memiliki rasa bangga dan tidak malu untuk mempelajari serta menampilkan Tari Guel.
- Pelestarian budaya yang berkelanjutan Tari Guel tidak hanya dikenal, tetapi juga terus dilestarikan dan diwariskan ke generasi berikutnya.
- Terbentuknya identitas budaya yang kuat remaja memiliki jati diri yang kuat sebagai bagian dari bangsa yang kaya budaya.
- Terciptanya generasi kreatif dan inovatif remaja mampu mengembangkan Tari Guel dengan ide-ide kreatif tanpa meninggalkan nilai tradisionalnya.
- Meningkatnya kepedulian terhadap warisan leluhur remaja lebih peduli dan aktif dalam menjaga serta mempromosikan budaya daerahnya.
Berdasarkan pembahasan tersebut disimpulkan bahwasannya Tari Guel merupakan budaya Gayo yang memiliki nilai filosofi dan kemanusiaan yang sangat tinggi. Ada pun pesan utama dari tulisan ini adalah untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya daerah agar tetap terjaga sebagai warisan identitas budaya daerah. Sekian dan Terimakasih.
Dokumentasi Wawancara Narasumber :

Setiap percakapan menyimpan makna dan pengetahuan.
(Dokumentasi tanggal 25 Maret 2026, Bener Meriah)